Ketika suatu saat tiba.
Aku sedang ada disana. Dalam jarak yang tak dapat dikatakan jauh, juga dekat.
Kau tertawa. Entah karena apa.
Kau tersenyum. Entah karena apa.
Lalu kau terdiam.
Ah, simfoni ekspresi yang kau torehkan itu, kubawa pulang. Lalu kuingat-ingat lagi.
Suatu saat itu sudah terlewat.
Tidak jauh. Mungkin hanya tertinggal beberapa hari.
Tapi aku ingin kembali.
Sungguh.
Pada suatu ketika.
Suatu saat terjadi. Lagi. Dengan tawa yang sama. Senyum yang sama. Juga diam yang sama.
Oleh kau. Yang (sialnya) masih sama.
Hanya jarak antara kita yang berbeda. Semakin dekat.
Bahkan, aku juga ikut dalam suatu saat milik kau itu.
Dalam tawa, senyum, diam, juga dalam kata-kata.
Entah. Hanya sepertinya. Saat itu aku kalah. Ya, aku sedang kalah.
AKU KALAH.
Aku kalah dari kau.
Sungguh. Aku sangat kalah dari kau.
Dari semua saat milik kau. Aku tengah kalah.
Dari semua simfoni ekspresi punya kau. Aku telah kalah.
Segala-galanya.
Aku kalah. Dari segala-galanya engkau.
@putriprat
2:36am
Note: Beberapa bulan kemarin dari saat ini. Aku tengah menang. Sekarang, aku telah menang. Semua esok dan selamanya, aku akan tetap menang. Dari segala-galanya engkau.
Thursday, August 23, 2012
Saturday, August 11, 2012
Siang hari itu,
Memandangi nisan itu membuatku
selalu merasa menyesal. Membuatku merasa sangat perih dan membuatku ingin lagi
kembali ke masa lalu yang sempurna. Hidupku kini seakan tak indah lagi. Tidak
lagi ada warna-warna cerah, tidak ada lagi keceriaan, tidak ada lagi
canda-candaan yang selalu saja berhasil menggelitikku, tidak ada lagi kerusuhan
didalam rumah yang selalu saja membuat pembantuku geleng-geleng kepala
menyaksikan kebodohan dan kekonyolan yang kami buat, tidak ada lagi semuanya.
Semuanya hilang. Semua yang sudah kami jalani harus berakhir tanpa kami
inginkan. Perih. Sangat perih yang aku rasa.
Sosok cowok itu selama-lamanya
tidak akan aku lupakan. Dia mengajari aku semua hal. Dia membimbing aku
menjalani hidupku sendiri. Dia selalu menuntunku agar aku tidak salah dalam
melangkah. Dia lindungi aku diseluruh hidupku, melindungiku lebih dan lebih
dari papiku melindungiku sendiri.
Aku kangen dia. Aku kangen banget
sama dia..
Aku gak ngerti, kenapa sampai
detik ini aku gak bisa sedikitpun bisa melangkah keluar pemakaman ini. Gak bisa
mengubah posisi, gak bisa berhenti mengingat masa lalu bersama dia. Dan aku gak
bisa sedikitpun percaya, bahwa dia ada didalam gundukan tanah itu. Aku gak bisa
percaya..
Siang hari itu, setelah pintu
dibuka, seseorang masuk dengan riang..
@putriprat
2011
@putriprat
2011
Friday, August 10, 2012
Bolehkah aku meminta, Tuhan?
Aku tahu soal perkara jodoh.
Aku tahu Tuhan yang mengatur semua.
Tapi aku juga hamba, yang senantiasa meminta.
Tuhan, memang jodohku ada di tanganMu. Ada dalam kehendakMu. Ada pada takdirMu.
Tetapi, bolehkah aku meminta, padaMu, Tuhan?
Biarkan saja aku pilih jodohku. Lalu Kau setujui pilihanku..
@putriprat
Aku tahu Tuhan yang mengatur semua.
Tapi aku juga hamba, yang senantiasa meminta.
Tuhan, memang jodohku ada di tanganMu. Ada dalam kehendakMu. Ada pada takdirMu.
Tetapi, bolehkah aku meminta, padaMu, Tuhan?
Biarkan saja aku pilih jodohku. Lalu Kau setujui pilihanku..
@putriprat
Subscribe to:
Posts (Atom)